Ada fase dalam hidup ketika semuanya terlihat baik-baik saja... Tapi entah mengapa hati terasa kosong. Aktivitas berjalan Pekerjaan lancar Tawa masih ada Target dunia masih dikejar Namun ketika malam tiba dan suasana mulai sunyi, ada pertanyaan yang pelan-pelan muncul dari dalam diri: "Kenapa rasanya aku jauh sekali?" Jauh dari ketenangan Jauh dari kekhusyukan Jauh dari Allah Dan mungkin, tulisan ini adalah bentuk kejujuran yang selama ini sulit diakui. Paradok: Ingin Dunia Nyaman, Akhirat Aman Lyric lagu Wali band Kecilnya bahagia Mudanya kaya raya Mati masuk Surga… woo… oow Tak cuma hidup baik Matipun harus baik Dua duanya baik… woo… oo Kita ingin hidup enak di dunia dan wafat dalam keadaan husnul khatimah. Kita ingin sukses finansial, keluarga harmonis, karier cemerlang - sekaligus akhir yang indah di sisi Allah. Tapi sering kali kita lupa satu hal penting: Hasil tidak pernah datang tanpa proses Surga bukan hadiah tanpa perjuangan Khusyuk bukan hasil dari hati yang dibia...
Ada masa dalam hidup ini ketika sholat terasa sangat berat. Bukan karena tidak tahu kewajibannya, tapi karena kosong saat melakukannya. Aku sholat dengan malas. Bahkan sering meninggalkannya. Di dalam kepala, muncul pertanyaan yang diam-diam berbahaya: "Buat apa sholat?" Pertanyaan itu tidak selalu diucapkan. Ia hadir pelan, tapi menggerogoti. Aku tahu sholat itu perintah. Aku tahu sholat itu tiang agama. Tapi mengetahui tidak selalu membuat hati bergerak. Aku sempat membeli buku. Tentang rahasia sholat Khusyuk. Tentang alasan mengapa kita harus sholat. Kubaca, kupahami, tapi tetap saja... kaki tidak melangkah, hati tidak tergerak. Sholat tetap terasa sebagai beban. Bukan kebutuhan. Sampai suatu hari, aku menonton sebuah Youtube Short Cuplikannya singkat. Mbah Moen menjelaskan tentang sujud. Beliau mengatakan sujud itu ada 8 yaitu 7 +1 yang terdiri dari 1. Kening 2 dan 3 Telapak tangan 4 dan 5 Lutut 6 dan 7 Telapak kaki Dan 8 nya Hati Di titik itu, aku menangis. Bukan karena ...