Ada masa dalam hidup ini ketika sholat terasa sangat berat.
Bukan karena tidak tahu kewajibannya, tapi karena kosong saat melakukannya.
Aku sholat dengan malas. Bahkan sering meninggalkannya.
Di dalam kepala, muncul pertanyaan yang diam-diam berbahaya:
"Buat apa sholat?"
Pertanyaan itu tidak selalu diucapkan.
Ia hadir pelan, tapi menggerogoti.
Aku tahu sholat itu perintah.
Aku tahu sholat itu tiang agama.
Tapi mengetahui tidak selalu membuat hati bergerak.
Aku sempat membeli buku.
Tentang rahasia sholat Khusyuk.
Tentang alasan mengapa kita harus sholat.
Kubaca, kupahami, tapi tetap saja...
kaki tidak melangkah,
hati tidak tergerak.
Sholat tetap terasa sebagai beban.
Bukan kebutuhan.
Sampai suatu hari, aku menonton sebuah Youtube Short
Cuplikannya singkat.
Mbah Moen menjelaskan tentang sujud.
Beliau mengatakan sujud itu ada 8
yaitu 7 +1
yang terdiri dari
1. Kening
2 dan 3 Telapak tangan
4 dan 5 Lutut
6 dan 7 Telapak kaki
Dan 8 nya Hati
Di titik itu, aku menangis.
Bukan karena bahasanya yang indah.
Tapi karena aku sadar sesuatu yang sangat menyakitkan:
selama ini aku sholat tanpa pernah benar-benar bersujud dengan hati.
Keningku menyentuh sajadah,
tapi hatiku berdiri tegak.
Tanganku menempel ke lantai, tapi pikiranku ke mana-mana.
Tubuhku tunduk, tapi hatiku tidak pernah ikut merendah.
Aku sujud,
tapi tidak pernah benar-benar berserah.
Saat itu aku mengerti,
mungkin bukan sholatku yang salah,
tapi caraku datang kepada Allah yang keliru.
Aku datang dengan tubuh,
tanpa membawa hati.
Sejak hari itu, aku tidak langsung menjadi rajin.
Tidak juga tiba-tiba khusyuk.
Aku hanya memulai dari satu hal kecil:
yaitu melibatkan hati.
Saat takbir, aku berkata dalam hati,
"Aku datang, ya Allah... meski belum pantas."
Saat sujud, aku mencoba jujur,
"Aku lelah, aku malas, aku sering lalai... tapi aku ingin kembali."
Sholatku masing sering bolong.
Masih sering berat.
Tapi kini aku tahu satu hal:
Sholat bukan tentang sempurna,
melainkan tentang datang dengan hati yang ikut bersujud.
Dan dari situlah, perlahan, aku mulai membiasakan sholat tepat waktu.
Bukan karena takut, bukan karena kewajiban semata, tapi karena aku tidak ingin lagi sujud tanpa hati.
Aku sholat karena selama ini aku mengaku sebagai hamba Allah,
namun pengakuanku tidak pernah benar-benar ku pertanggung jawabkan.
Aku menyebut diriku hamba,
tapi jarang datang ketika dipanggil.
Aku mengaku bergantung, tapi lebih sering mengandalkan diri sendiri.
Aku meminta banyak hal dalam doa, namun lupa hadir dalam sholat.
Sholat menjadi pengingat paling jujur:
bahwa menjadi hamba bukan soal pengakuan,
melainkan kehadiran.
Aku sholat bukan karena Allah membutuhkan sholatku,
tapi karena aku yang membutuhkan-Nya.
Aku membutuhkan jeda untuk merendah,
membiarkan hati menyentuh tanah,
agar egoku tidak terus berdiri.
Aku sholat karena hidup sering membuatku merasa mampu, padahal aku rapuh.
Dan sholat adalah satu-satunya tempat
di mana aku diizinkan mengakui kelemahan itu
tanpa harus berpura-pura kuat.
Aku sholat karena ingin jujur dalam penghambaanku.
Jika aku menyebut Allah sebagai Rabb ku,
maka sudah sepantasnya aku datang,
meski dengan hati yang belum rapi,
meski dengan iman yang naik turun.
Sholat mengajarkanku bahwa Allah tidak menunggu hamba yang sempurna,
tetapi hamba yang mau kembali.
Dan mungkin, selama ini
yang Allah tunggu bukan sujudku yang benar,
melainkan hatiku yang akhirnya ikut turun.
(catatan ku saat safar naik kereta dari stasiun pasar senen ke stasiun pekalongan)
Comments
Post a Comment